Pengikut

Pengikut

Rabu, 11 Juni 2014

BAB II KETURUNAN DAN LINGKUNGAN A. Arti Keturunan dan lingkungan 1. Keturunan Istilah keturunan yang sering pula dikatakan dengan pembawaan ataupun heredity adalah suatu faktor gejala alamiah ciptaan Tuhan. Anak manusia pada kenyataannya di dapati dengan jenis laki-laki ataupun perempuan dan dalam kelahirannya pun kita jumpai dalam wujud anak tunggal, kadang-kadang anak kembar dan dan lain sebagainya. Sebagai mahluk Tuhan kita menyakini bahwa kejadian itu semata-mata anugerah Tuhan kepada umat manusia yang sebenarnya kita tidak banyak mengetahui tentang apakah hakekatnya terjadi gejala-gejala alamiah yang semcam itu. Walaupun demikain sebagai mahluk Tuhan yang berakal sepanjang mungkin dapat terjangkau oleh penelitian otak manusia yang perlu kita pahami latar belakang daripada kenyataan tersebut. Setiap sel benih di dalam kandungan sang ibu mempunyai 48 pasang khromosom dan yang kemudian sel tersebut membelah dirinya menjadi dua belahan yang masing terdiri atas 24 tumbuh khromosom. Akan tetapi kemudian tiap-tiap sel belahan tadi biasanya hanya satu belahan saja yang mampu hidup terus, sedangkan belahan yang satunya lagi kematian sebelum dapat tumbuh terus. Dari belahan sel yang tumbuh terus inilah kemudian terbentukalah embrio manusia di dalam kandungan sang ibu. Walaupun demikian karena ketentuan Tuhan semata-mata mungkin saja dari kedua belahan masing-masing sel tersebut akan tumbuh bersama-sama, dimana keduanya mampu hidup terus. Dan apabila terjadi keadaan yang demikian maka embrio yang yang terjadi akan terdapat pula dua, sehinggga keadaan itu akan lahirlah kedua anak kembar dua atau twin, Keadaan kembar yang berasal dari satu sel yang menjadi dua itu dalam kenyataannya terdiri atas sepasang kembar laki-laki semua ataupun wanita. Kejadian kembar ini dinamakan kembar identik, karena sama jenis kelaminya. Mengapa? Kemungkinan lain dari hasil pembuahan itu terjadi pada dua buah sel, tiga atau lebih. Sedangkan kembar dengan dua jenis disebut dengan kembar bersaudara atau istilah fraternal twin. Seberapa jauh kuatnya pengaruh sifat keturunan yang berasal dari sang ayahnya ataupun dari ibunya, sangat bergantung pada pengaruh besarnya kwalitas gen dari masing-masing orang tua itu. Apa-apa yang diturunkan pihak orang tua kepada anaknya itu berdasarkan hasil perpaduan gen, tadi yang hanya mencakup ruang lingkup sifat-sifatnya juga struktur individunya. Dan sangat sedikit sekali menerobos kepada sifat-sifat ornag tua yang diperolehnya dari pada hasil-hasil pengalaman atau dari hasil belajar orang tua dengan lingkungannya. Dan dengan demikian maka sifat-sifat keturunan itu lebih cenderung kepada pola-pola yang sifatnya permanen, yaitu sifat-sifat yang tidak diperoleh kedua ornag tuanya melalui hasil belajar. Suatu pandangan tentang masalah keturunan ini dikemukakan oleh Gregor Mendel, sehingga pandangan ini dikenal sebagai hypothesa genetika Mendel yang antara lain mengemukakan bahwa: a. Tiap-tiap sifat mahluk hidup itu dikendalikan oleh faktor keturuanan. b. Tiap-tiap pasangan faktor keturunan menentukan bentuk alternative sesamanya. Dan satu daripada pasangan alternative itu memegang pengaruh yang besar. c. Pada waktu proses pembentukan sel-sel kelamin, maka pasangan faktor keturunan itu memisah. Dan tiap-tiap sel kelaminnya menerima salah satu faktor dari pasangan faktor keturunan itu. Gregor Mendel, mengadakan percobaan dengan cara mengawinkan bunga merah dengan bunga putih. Dan keturunannya memunculkan 25% bunga merah 25% bunga putih 50% bunga merah muda. 2. Lingkungan Semenjaka di dalam kandungan sang Ibu embrio manusia sudah berhadapan yang berupa berbagai cairan dan lain-lain, karena ia pun memperoleh sari makanan dan lain-lain melalui proses osmose. Akan tetapi yang akan kita bicarakan adalah mengenai lingkungan ini adalah lingkungan anak atau lingkungan manusia setelahnya berada di alam fana yang nyata ini. Istilah lingkungan dalam bidang psikologi ini hendaknya diartikan dalam suatu pengertian yang luas, di mana di dalamnya harus tercakup kepada segala apa yang berpengaruh pada diri individu manusia. Lingkungan disebut dengan miliu, environment atau pun di sebut juga dengan nurture yang dilawankan dengan is istilah nuture atau pembawaan. Sejak manusia lahir kedunia, anak manusia itu secara langsung berhadapan dengan lingkungannya, seperti: udara, cuaca sinar, bunyi-bunyian, ibu, ayah, saudara, sanak, familinya, yang terdekat sampai kerabat dan tetangga yang jauh. Apabila kita meninjau dari pada bentuknya maka lingkungan manusia itu pada pokoknya terdiri atas dua golongan, yaitu lingkungan atau lingkungan budaya atau cultural environment dan lingkungan sosial atau interpersonal environment. Demikian pembagian lingkungan tersebut antara lain: a. Lingkungan dalam yang meliputi: - Rasa lapar - Rasa haus - Rasa sakit - Rasa senang - Dan lain-lain b. Lingkungan luar: - Fisik : Tumbuh-tumbuhan, hewan. Gunung-gunug, rumah, makanan, minuman dan lain-lain - Sosial : Ayah, ibu, keluarga, teman-teman dan lain-lain. - Budaya : Bahasa, ilmu pengetahuan, karya, seni, adat istiadat, dan lain-lain. Spritual : Agama, keyakinan, ide-ide, kreativitas, dan lain-lain. Dengan lingkungan dalam, sebenarnya merupakan lingkungan yang berasal dari luar juga akan tetapi telah meresap ke dalam organisme manusia sehingga individu seolah-olah tidak merasakan lagi datangnya dari luar itu. Mkanan, minuman dan lain-lain yang masuk kedalam organisme manusia, menimbulkan cairan-cairan pada jaringan tubuh dan dimana termasuk di dalamnya juga hormone-hormon tertentu. Sebagai akibat pengaruh cairan-cairan dalam tubuh itu memungkinkan individu merasa lapar,haus, sakit, cinta, dan lain-lain sebagianya. Sedangkan mengenai lingkungan luar, adalah lingkungan yang benar-benar dapat kita ketahui melalui pengamatan yang nyata seperti apa adanya. Demikian pembagian lingkungan wujud kenyataanya, akan tetapi kesemuaannya dapat berpengaruh memberikan ransangan atau stimulus bagi individu. Dan dengan demikian maka pendidikan pun merupakan suatu lingkungan bagi indiviidu yang sangat besar perannya. B. Pengaruh keturunan dan lingkungan bagi individu - Pengaruh faktor keturunan Keturunan sebagai faktor pembawaan yang dibawa oleh setiap insan individu sejak dalam kandungan, maka setelah kelahirannya mengandung beberapa potensi yang perlu dikembangkan dalam masa pertumbuhannya. Ada suatu pandanngan yang sangat berlebihan mengenai pentingnya peranan pengaruh keturunan atau pembawaan bagi perkembangan individu itu seperti yang dikemukakan oleh Schoupenhaur dengan azas nativesmenya. Azas ini menyatakan bahwa: “manusia itu tidak berubah-ubah dan ahlak manusia itu tetap seumur hidup, ia tetap sebagai semula”. Pandangan azas ini menunjukkan bahwa seolah-olah tidak mengacuhkan sama sekali kepada faktor-faktor lainnya dan hanya keturunanlah atau pembawaanlah yang menentukan sifat dan tingkah laku individu. Dalam hubungannya dengan pandangan diatas,m tentunya kita tidak akan sependapat dengan mengingat ekstrimnya pendapat tersebut dengan tidak menerima kemungkinan-kemungkinan terhadap pengaruh lain bagi terbentuknya ciri-ciri tingkah laku individu tersebut. Walaupun demikian kita perlu mengetahui ciri-ciri tingkah laku yang bagaimana saja yang mungkin kita turunkan sebagai fakktor p[embawaan dari pihak orang tua kepada anak-anaknya itu? a. Azas Reproduksi Menurut azas ini bahwa kecakapan dari masing-masing ayah atau ibunya tidak dapat diturunkan kepada anak-anaknya karena kecakapan dalam tingkah laku manusia itu pada umumnya merupakan hasil belajar masing-masing orang tua dari pada lingkungannya. Sifat-sifat tingkah laku yang diturunkan orang tua kepada anak-anaknya hanyalah bersifat reproduksi, yaitu memunculkan kembali mengenai apa yang sudah ada pada hasil perpaduan benih saja. Dan dengan demikian bukan didasarkan atas dasar sifat-sifat tingkah laku yang diperoleh orang tua karena hasil belajar atau dengan melalui interaksi dengan lingkungannya. b. Azas Variasi Azas variasi menjelaskan bahwa penurunan sifat pppembawaan dari orang tua kepada anak-anaknya akan didapati berbagai variasi, baik mengenai kwantitasnya maupun yang berkenaan dengan kualitasnya. Terjadinya keadaan demikian itu disebabkan karena bahwa terjadinya pada waktu pembuahan, maka komposisi gen-gennya selalu berbeda. Mengapa bisa terjadi demikian, kiranya belum banyak terjangkau oleh ilmu pengetahuan mannusia. Hanya yang mungkin bisa dijadikan alasan, mungkin karena kondisi dan situasinya yang berubah-ubah dan lain-lain. Dari atas ini mennunjukkan bahwa akan didapati beberapa perbedaan diantara sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku individu dari orang yang bersaudara, walaupun bersal dari ayah dan ibu yang sama. Dan akibatnya mungkin terjadi bahwa kakaknya lebih banyak menyerupai sifat-sifat dan tingkah laku ibunya, sedangkan adiknya lebih banyak mennyerupai sifat dan tingkah laku ayahnya dan seterusnya. c. Azas Regresi Filial Azas ini merupakan dapat diketahui bahwa sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku kedua orang tuanya. Adanya penyurutan ini disebabkan karena perpaduan pembawaan ayah dan ibunya menimbulkan gaya tarik-menarik daripada keduanya. Dan tingkah laku serta sifatnya anaknya akan didapati sebagian kecil dari sifat-sifat ayahnya dan sebagian kecil pula dari sifat-sifat ibunya. Sedangkan perbandingannya mana yang lebih besar antara sifat-sifat ayah dan ibunya ini sangat bergantung kepada daya kekuatan tarik menarik daari pada masing-masing sifat keturunan tersebut. d. Azas Jenis Menyilang Menurut azas ini bahwa apa yang diturunkan oleh masing-masing orang tua kepada anaknya mempunyai sasaran menyilang jenis. Dan ini berarti bahwa pada kenyataannya akan dijumpai seorang anak perempuan akan lebih banyak memiliki sifat-sifat dan tingkah laku ayahnya, sedangkan bagi anak laki-laki lebih banyak memiliki sifat pada ibunya. e. Azas Konformitas Berdasarkan azas ini bahwa seseorang anak akan lebih banyak memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri dan tingkah laku yang diturunkan oleh kelompok rasnya atau suku bangsanya. Dan demikian kenyataannya bahwa misalnya orang Eropa akan menyerupai sifat-sifat seperti orang eropa lainnya dibandingkan dengan orang-orang Asia lainnya. Sebagai suatu gambaran bahwa pengemukaan beberapa azas seperti tersebut di atas adalah semata-mata untuk suatu perbandingan berkenaan dengan cirri-ciri dan sifat-sifat tingkah laku yang mungkin diturunkan dan memegang peranan bagi keturunannya. - Pengaruh Faktor Lingkungan Lingkungan sebagai faktor yang mempengaruhi bagi pengembangan sifat dan tingkah laku individu setelahnya ia mengenal alam hidup di dunia sekitarnya. Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai empiri yang berarti pengalaman, karena dennggan lingkungan itu individu mulia mengalami dan mengecap alam sekitarnya. Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mutlak dari pada pengaruh lingkungan itu, karena lingkungan itu senantiasa tersedia di sekitarnya. Suatu pandangan yang ekstrim terhadap yang sangat mementingkan faktor lingkungan kita jumpai pada pandangan teori empirisme yang dipelopori oleh Jhon Locke. Teori empirisme ini dikenal pula dengan sebutan teori tabula rasa, yaitu yang menyatakan bahwa anak manusia itu bagaikan meja yang dilapisi lilin putih atau bagaikan kertas putih sehingga warna apapun bisa menghiasinya. Dan kalau meja berlilin putih ini dianggap sebagai individu menurut quadratnya dan warna yang melekat padanya itu berbuat corak apa saja bagi individu yang bersangkutan. Pandangan demikian mempunyai arti pula bahwa faktor pembawaan ataupun keturunan itu tidak mempunyai arti apa-apa bagi perkembangan individu. Sejauh mana pengaruh lingkungan bagi diri individu, dapat kita akui pada uraian berikut dan yang pada pokoknya meliputi dua sasaran; a. Lingkungan membuat individu sebagai mahluk sosial Dengan lingkungan pula pada uraian ini dimaksudkan hanya meliputi orang-orang atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi, sehingga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai mahluk sosial yang dalamn keadaan bergaul suatu dengan yang lainnya. Terputusnya hubungan manusia dengan masyarakat menusia pada tahun-tahun permulaan perkembangannya, akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia sebagai manusia. Berubahnya tabiat manusia sebagai dalam arti bahwa ia tidak mampu bergaul dan bertingkah laku dengan sesamannya. b. Lingkungan membuat wajah budaya bagi individu Lingkungan dengan aneka ragam kenyataannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah menjdai kekayaan budaya bagi dirinya. Lingkungan dapat membentuk kepribadian seseorang, karena manusia hidup adalah mannusia yang berpikir dan serba ingin tahu dan rasa ingin mencoba-coba terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya itu. Lingkungan sebagai wajah budaya bagi individu berrati pula bahwa individu sendiri berperan sebagai pusat dari pada lingkungan tersebut. Dan dengan individu menjadi pusat lingkungan, maka individu dalam berhadapan dengan lingkungan tersebut memungkinkan timbulnya peranan lingkungan bagi individu sebagai berikut: a. Lingkungan sebagai alat individu Dalam hal ini lingkungan sangat berpengaruh terhadap bagi perubahan sifat-sifat dan tingkah laku karena lingkungan itu dapat menjadi alat untuk kepentingan individu, alat untuk kelangsungan hidup individu dan menjadi alat kepentingan sosial dalam pergaulan Contohnya:air dapat dijadikan untuk membersihkan diri, air dapat menjadi minuman untuk kelangsungan hidup, dan secangkir the bisa menjamu teman-teman dalam pergaulan sosial. b. Lingkungan sebagai tantangan bagi individu Lingkungan dapat berpengaruh untuk mengubah sifat dan tingkah laku. Karena itu lingkungan juga merupakan lawan atau tantangan bagi individu untuk mengatasinya. Contohnya: air bisa berguna buat masyrakat dan air banjir dimusim hujan melahirkan manusia untuk mengatasinya. c. Lingkungan sebagai suatu yang diikuti individu Sifat manusia senantiasa ingin mengetahui sesuatu dan ingin mencoba sesuatu dalam batas kemampuannya. Lingkungan yang beraneka ragam bisa membuat daya tarik kepada individu untuk mencoba mengikutinya. Misalnya seorang anak yang bergaul dengan anak rajin belajar maka otomatis ia akan mengikutinya sedikit, sehingga lama kelamaan ia sendiri berubah sifatnya menjadi anak yang rajin pula. d. Lingkungan obyek penyesuaian bagi individu Usaha penyesuaian diri atau adaptasi terhadap lingkungan itu terdapat dua bentuk, seperti: dengan cara autoplastis dan alloplastis. Penyesuaian diri dengan cara alloplastis, berarti bahwa individu berusaha agar lingkungannya itu sesuai dengan dirinya. Dapat pula melalui “manipulation” yaitu mengadakan usaha untuk memalsukan lingkungan dingin itu menjadi hangat sehingga sesuai dengan dirinya. Kadang juga melalui ‘Lokomotion” yaitu dengan cara menjauhkan diri dangan lingkungan yang bersangkutan. Sedangkan autoplastis ialah penyesuaian diri di mana individu berusa agar dirinya sesuai dengan keadaan lingkungan yang bersangkutan. C. Hubungan Keturunan dan lingkungan Menurut teori nativisme faktor keturunanlah yang paling besar, pengaruhnya bagi perkembangan sikap dan tingkah laku individu, sedangkan faktor lannya tidak mempunyai pengaruh yang berarti baginya. Sebaliknya pandangan teori empirisme beranggapan hanya lingkungan atau pendidikanlah yang paling besar pengaruhnya dengan kurang mengacuhkan kepada peranan dari pada faktor-faktor yang lainnya. Di lain pihak ada pandangan yang mengambil jalan tengah dan mengambil garis penyesuaian diri kedua pandangan yang ekstrim di atas, yaitu apa yang dinamakan teori konvergensi yang dikemukakan oleh William Stren menyatakan bahwa antara pembawaan dan lingkungan itu kedua-duanya sama-sama mempunyai pengaruh yang sesuai bagi perkembangan dan cirri-ciri tingkah laku individu. Dengan kata lain teori ini memberikan nilai yang sama bagi faktor keturunan dan lingkungan, sehingga sikap dan sifat tingkah laku individu itu merupakan gabungan integrasi dari dua belahan yang sama kwantitas dan kwalitanya. Hubungan antar faktor lingkungan dengan keturunan itu adalh sebagi berikut: - Bahwa faktor keturunan maupun faktor lingkungan kedua-duanya mempunyai pengaruh yang penting abgi perkembangan tingkah laku individu. - Mengenai awal sesuatu yang menjadi pembawaan atau keturunan yang mungkin diturunkan itu hanya potensi-potensi dasar struktur individu yang bersifat psikis dan fesis semata. - Bahwa mengingat faktor lingkungan itu cukup luas dimana setiap individu mempunyai kesempatan belajar dari lingkungannya sampai seumur hidupnya, maka kecenderungan adanya pengaruh lingkungan nampak lebih besar dari pada pengaruh faktor keturunan. - Bahwa hubungan interaksi antara faktor keturunan dan lingkungan di dalam pengembangan tingkah laku individu itu perlu dimantapkan bimbingannya. D. Kematangan Istilah kematangan berasal dari kata “maturatin” yang sering dilawankan “immaturation” yang artinya tidak matang. Seorang bayi yang lahir sebelum waktunya dikatakan “premature” artinya bahwa abyi itu lahir belum mencapai 270 hari berada dalam kandungannya. Kematangan itu merupakan suatu potensi yang dibawa individu, timbul bersatu dengan pembawaannya dan turut mengatur pola perkembangan tingkah laku individu. Kematangan mula-mula merupakan suatu hasil daripada adanya perubahan tertentu dan penyesuaian struktur pada diri individu seperti misalnya, adanya kematangan jaringan-jaringan tubuh, saraf dan kelenjar-kelenjar yang dapt kita namakan dengan sebutan kematangan biologis. Kematangan terjadi pula pada aspek-aspek psikis yang meliputi keadaan pola berpikir, rasa, kemauan, dan lain-lain dan kematangan pada aspek psikis ini diperlukan adanya latihan-latihan belajar tertentu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar